Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia
Sebelum
Indonesia menjadi negara kesatuan seperti sekarang ini dahulu lebih dulu ada
kerajaan-kerajaan. Kepercayaan-kepercayaan akan adanya pemilik dan pengatur
alam semesta ini mulai muncul ketika itu. Awalnya masyarakat pada waktu itu
mempercayai adanya kekuatan pada benda-benda yang mempunyai kekuatan
supranatural. Mereka mulai mengetahui adanya agama ketika datangnya agama Hindu
dan Budha. Pada waktu itu hampir semua penduduk kerajaan beragama Hindu atau
Budha karena diharuskan untuk tunduk pada raja mereka yang juga beragama yang
sama. Sekitar abad ke-7 Masehi baru lah agama Islam masuk ke Indonesia.
A.
Masyarakat
sebelum Islam di Indonesia
Sebelum masuknya agama Islam ke Indonesia, sudah ada agama yang lebih
dahulu ada. Agama tersebut adalah agama Hindu dan Budha. Hal tersebut
ditunjukkan melalui bukti-bukti sejarah yang ada, seperti prasasti kerajaan dan
candi. Pada waktu itu negara Indonesia belum berbentuk kesatuan, yang ada
adalah kerajaan-kerajaan. Waktu itu, rakyat dituntut untuk tunduk pada perintah
rajanya. Rakyat yang tunduk patuh kepada raja saat itu, tentulah menjunjung
tinggi tradisi kehidupan beragama yang resmi, yang dipeluk oleh raja dan
kerajaan yang berkuasa.
B.
Masuknya
Islam di Indonesia
Menurut sumber sejarah, disebutkan bahwa
salah satu sebab keruntuhan kerajaan baik Budha maupun Hindu, di Jawa dan
Sumatera, adalah karena masuknya Islam secara damai. Agama Islam mudah diterima
karena selain logis juga memberikan harapan kehidupan. Sejak abad ke-7 Masehi
diduga keras para musafir dan pedagang muslim dari Arab, Persia, dan India
(Gujarat) telah memperkenalkan agama Islam di Indonesia. Hal ini dimungkinkan
karena sejak abad ke-5 Samudera Hindia telah menjadi kawasan jalan dagang Teluk
Persia-Tiongkok yang terus berlanjut sampai beberapa abad kemudian. Islam
datang melalui pedagang, bukan melalui penjajah sehingga Islam datang dengan
jalan damai. Islam menyebar luas di Indonesia melalui jalan dakwah, perkawinan,
dan hubungan dagang yang baik. Jalan perkawinan berlangsung antara muballigh dengan
penduduk setempat, lalu secara turun-temurun keturunannya diajarkan nilai-nilai
agama Islam. J.C. van Leur dalam bukunya
Indonesia Trade and Society (Den Haag; W.Van Hoeven Publisher Ltd.,
1967) berpendapat bahwa agama Islam lebih menarik daripada agama penduduk
sebelumnya (Hindu dan Budha).
Pada abad ke-11 Masehi telah ditemukan
bukti-bukti bahwa Islam telah menjadi agama masyarakat, antara lain
ditemukannya batu nisan dengan nama Fatimah binti Maimun (W. 475H/1082M) di
Laren, Gresik lalu makam Sultan Malikush Shaleh (1270-1297) yang merupakan raja
pertama Samudera pasai, dan makam wanita muslim, Tuhur Amisuri (602H) di Barus,
pantai barat pulau Sumatera.
Pada abad ke-3H kerajaan-kerajaan Islam
telah terkenal secara pasti, misalnya kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara.
Kerajaan Samudera Pasai dikunjungi Ibnu Batutah pada tahun 1325. Pada waktu itu
di istana dan masjid yang dibangun sering diadakan pertemuan dan diskusi
mengenai masalah-masalah keagamaan dengan para ulama terkemuka yang datang dari
pusat-pusat peradaban Islam.
Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia mulai
berdiri pada abad ke-13 dan pada abad ke-17 merupakan fase dimana kemajuan
Islam sangat pesat. Pada masa inilah kerajaan Aceh, Ternate, Giri, Demak, Gowa,
serta Tallo di Makasar (sebagai pusat kekuasaan, perdagangan, dan pengkajian
Islam, serta berdiri sebagai kesultanan Islam Nusantara). Kelompok yang
berperan penting dalam penyebaran Islam adalah wali, terutama yang dikenal di
Jawa dengan istilah Walisongo (Wali Sembilan), ulama, dan para muballigh yang
telah dibina di pusat-pusat pendidikan Islam seperti Pesantren dan Surau. Pusat
pendidikan tersebut berfungsi sebagai tempat pendidikan dan tempat kaum
cendekiawan , pusat penyebaran Islam, dan media komunikasi serta informasi.
Pada sisi lain, pedagang dan penguasa kerajaan Islam pada saat itu juga mempunyai
jasa yang sangat besar dalam penyebaran Islam. Kedatangan Islam di Indonesia
telah membawa kecerdasan bagi masyarakat dan peradaban tinggi dalam membentuk
kepribadian Bangsa Indonesia.
Ada
dua pendapat tentang awal mula masuknya Islam di Indonesia:
1.
Abad ke-13
Masehi, pendapat dikemukakan oleh N.H Krom dan Van Der Berg. Pendapat lama ini
mendapat sanggahan dan bantahan.
2.
Sanggahan
dikemukakan antara lain oleh: H. Agus Salim, M. Zainal Arifin Abbas, H.M.
Zainuddin, Djuned Parinduri, Hamka, Sayed Alwi bin Tahir Alhada, T.W. Arnold.
Mereka berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara dimulai sejak abad ke-7
Masehi.
Islam
pertama kali menurut Snouck Hurgronje, H. Kraemer dan Van Der Berg berasal dari
India, P.A. Hoesein Djajadiningrat mengatakan dari Persia. Hamka mengatakan
langsung dari Arab. Tersebarnya Islam di Indonesia ada yang mengatakan oleh
para saudagar muslim, adapula yang mengatakan oleh para muballigh.
C.
Hasil
Seminar
Telah diselenggarakan seminar mengenai
sejarah masuknya Islam ke Indonesia di Medan pada 17-20 Maret 1963. Dalam
seminar tersebut disimpulkan bahwa:
1.
Bahwa
menurut sumber-sumber yang kita ketahui, Islam telah masuk ke Indonesia pada
abad pertama Hijriyah (abad ke-7 Masehi) langsung dari Arab.
2.
Daerah
pertama yang didatangi oleh Islam ialah pesisir Sumatera, dan setelah
terbentuknya masyarakat Islam, maka Raja Islam pertama berada di Aceh.
3.
Penyiaran
Islam selanjutnya dilakukan juga oleh umat Islam, dan para muballigh dengan
cara damai.
4.
Kedatangan
Islam di Nusantara telah membawa kecerdasan bagi masyarakat dan peradaban
tinggi dalam membentuk kepribadian Bangsa Indonesia.
D.
Perkembangan
Islam di Nusantara
Agama Islam dengan cepat tersiar di
Indonesia disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
1.
Ajarannya
yang mudah diterima oleh masyarakat Nusantara baik penguasa, pedagang, petani
dsb.
2.
Kesungguhan,
ketekunan, dan keikhlasan para da’i dalam menyampaikan ajaran Islam kepada
masyarakat.
Pada masa pergerakan nasional
organisasi-organisasi Islam mulai lahir, kebanyakan dari organisasi tersebut terjun
dalam dunia politik seperti Sarekat Islam yang dipandang sebagai pelopor
pergerakan partai Islam yang memiliki andil yang besar dalam penanaman
kesadaran politik kebangsaan, namun ada juga yang berkonsentrasi pada bidang
pendidikan dan sosial. Partai-partai kebangsaan dan partai politik yang
berlandaskan Islam di antaranya, Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), Partai
Islam Indonesia (PII). Kemudian muncul Muhammadiyah (1912), Persatuan Islam
(Persis, 1923), Persatuan Umat Islam (PUI, 1925), Nahdatul Ulama (NU, 1929),
dan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI, 1937).
Dalam mengisi kemerdekaan, umat Islam
bersama pemerintah membangun negara dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan
keamanan. Sejak awal kebangkitan bangsa Indonesia, umat Islam telah berperan
untuk ikut mencerdaskan bangsa dengan membangun lembaga sosial, pendidikan, dan
sebagainya.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah Islam
datang ke Indonesia dengan cara damai dan tidak memaksa sehingga mudah diterima
oleh masyarakat Indonesia yang pada waktu itu pemerintahannya masih berbentuk
kerajaan-kerajaan. Datangnya agama Islam dibawa oleh para pedagang dan
muballigh. Setelah Islam diterima, mulai ada penetrasi Islam untuk masuk ke
struktur birokrasi pemerintahan melalui partai politik dengan basis agama
Islam. umat Islam bersama pemerintah membangun negara dalam bidang ekonomi,
sosial, budaya, dan keamanan. Islam telah berperan untuk ikut mencerdaskan
bangsa dengan membangun lembaga sosial, pendidikan, dan sebagainya.
Sumber bacaan
HD, Kaelany. 2006. Islam Agama Universal.
Jakarta: Midada Rahma Press
No comments:
Post a Comment