Tuesday, 24 September 2013

Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia




Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia
Sebelum Indonesia menjadi negara kesatuan seperti sekarang ini dahulu lebih dulu ada kerajaan-kerajaan. Kepercayaan-kepercayaan akan adanya pemilik dan pengatur alam semesta ini mulai muncul ketika itu. Awalnya masyarakat pada waktu itu mempercayai adanya kekuatan pada benda-benda yang mempunyai kekuatan supranatural. Mereka mulai mengetahui adanya agama ketika datangnya agama Hindu dan Budha. Pada waktu itu hampir semua penduduk kerajaan beragama Hindu atau Budha karena diharuskan untuk tunduk pada raja mereka yang juga beragama yang sama. Sekitar abad ke-7 Masehi baru lah agama Islam masuk ke Indonesia.


A.     Masyarakat sebelum Islam di Indonesia
Sebelum masuknya agama Islam ke Indonesia, sudah ada agama yang lebih dahulu ada. Agama tersebut adalah agama Hindu dan Budha. Hal tersebut ditunjukkan melalui bukti-bukti sejarah yang ada, seperti prasasti kerajaan dan candi. Pada waktu itu negara Indonesia belum berbentuk kesatuan, yang ada adalah kerajaan-kerajaan. Waktu itu, rakyat dituntut untuk tunduk pada perintah rajanya. Rakyat yang tunduk patuh kepada raja saat itu, tentulah menjunjung tinggi tradisi kehidupan beragama yang resmi, yang dipeluk oleh raja dan kerajaan yang berkuasa.
B.     Masuknya Islam di Indonesia
Menurut sumber sejarah, disebutkan bahwa salah satu sebab keruntuhan kerajaan baik Budha maupun Hindu, di Jawa dan Sumatera, adalah karena masuknya Islam secara damai. Agama Islam mudah diterima karena selain logis juga memberikan harapan kehidupan. Sejak abad ke-7 Masehi diduga keras para musafir dan pedagang muslim dari Arab, Persia, dan India (Gujarat) telah memperkenalkan agama Islam di Indonesia. Hal ini dimungkinkan karena sejak abad ke-5 Samudera Hindia telah menjadi kawasan jalan dagang Teluk Persia-Tiongkok yang terus berlanjut sampai beberapa abad kemudian. Islam datang melalui pedagang, bukan melalui penjajah sehingga Islam datang dengan jalan damai. Islam menyebar luas di Indonesia melalui jalan dakwah, perkawinan, dan hubungan dagang yang baik. Jalan perkawinan berlangsung antara muballigh dengan penduduk setempat, lalu secara turun-temurun keturunannya diajarkan nilai-nilai agama Islam.  J.C. van Leur dalam bukunya Indonesia Trade and Society (Den Haag; W.Van Hoeven Publisher Ltd., 1967) berpendapat bahwa agama Islam lebih menarik daripada agama penduduk sebelumnya (Hindu dan Budha).
Pada abad ke-11 Masehi telah ditemukan bukti-bukti bahwa Islam telah menjadi agama masyarakat, antara lain ditemukannya batu nisan dengan nama Fatimah binti Maimun (W. 475H/1082M) di Laren, Gresik lalu makam Sultan Malikush Shaleh (1270-1297) yang merupakan raja pertama Samudera pasai, dan makam wanita muslim, Tuhur Amisuri (602H) di Barus, pantai barat pulau Sumatera.
Pada abad ke-3H kerajaan-kerajaan Islam telah terkenal secara pasti, misalnya kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara. Kerajaan Samudera Pasai dikunjungi Ibnu Batutah pada tahun 1325. Pada waktu itu di istana dan masjid yang dibangun sering diadakan pertemuan dan diskusi mengenai masalah-masalah keagamaan dengan para ulama terkemuka yang datang dari pusat-pusat peradaban Islam.
Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia mulai berdiri pada abad ke-13 dan pada abad ke-17 merupakan fase dimana kemajuan Islam sangat pesat. Pada masa inilah kerajaan Aceh, Ternate, Giri, Demak, Gowa, serta Tallo di Makasar (sebagai pusat kekuasaan, perdagangan, dan pengkajian Islam, serta berdiri sebagai kesultanan Islam Nusantara). Kelompok yang berperan penting dalam penyebaran Islam adalah wali, terutama yang dikenal di Jawa dengan istilah Walisongo (Wali Sembilan), ulama, dan para muballigh yang telah dibina di pusat-pusat pendidikan Islam seperti Pesantren dan Surau. Pusat pendidikan tersebut berfungsi sebagai tempat pendidikan dan tempat kaum cendekiawan , pusat penyebaran Islam, dan media komunikasi serta informasi. Pada sisi lain, pedagang dan penguasa kerajaan Islam pada saat itu juga mempunyai jasa yang sangat besar dalam penyebaran Islam. Kedatangan Islam di Indonesia telah membawa kecerdasan bagi masyarakat dan peradaban tinggi dalam membentuk kepribadian Bangsa Indonesia.
            Ada dua pendapat tentang awal mula masuknya Islam di Indonesia:
1.      Abad ke-13 Masehi, pendapat dikemukakan oleh N.H Krom dan Van Der Berg. Pendapat lama ini mendapat sanggahan dan bantahan.
2.      Sanggahan dikemukakan antara lain oleh: H. Agus Salim, M. Zainal Arifin Abbas, H.M. Zainuddin, Djuned Parinduri, Hamka, Sayed Alwi bin Tahir Alhada, T.W. Arnold. Mereka berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara dimulai sejak abad ke-7 Masehi.
Islam pertama kali menurut Snouck Hurgronje, H. Kraemer dan Van Der Berg berasal dari India, P.A. Hoesein Djajadiningrat mengatakan dari Persia. Hamka mengatakan langsung dari Arab. Tersebarnya Islam di Indonesia ada yang mengatakan oleh para saudagar muslim, adapula yang mengatakan oleh para muballigh.
C.     Hasil Seminar
Telah diselenggarakan seminar mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia di Medan pada 17-20 Maret 1963. Dalam seminar tersebut disimpulkan bahwa:
1.      Bahwa menurut sumber-sumber yang kita ketahui, Islam telah masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (abad ke-7 Masehi) langsung dari Arab.
2.      Daerah pertama yang didatangi oleh Islam ialah pesisir Sumatera, dan setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka Raja Islam pertama berada di Aceh.
3.      Penyiaran Islam selanjutnya dilakukan juga oleh umat Islam, dan para muballigh dengan cara damai.
4.      Kedatangan Islam di Nusantara telah membawa kecerdasan bagi masyarakat dan peradaban tinggi dalam membentuk kepribadian Bangsa Indonesia.
D.     Perkembangan Islam di Nusantara
Agama Islam dengan cepat tersiar di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
1.      Ajarannya yang mudah diterima oleh masyarakat Nusantara baik penguasa, pedagang, petani dsb.
2.      Kesungguhan, ketekunan, dan keikhlasan para da’i dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.
Pada masa pergerakan nasional organisasi-organisasi Islam mulai lahir, kebanyakan dari organisasi tersebut terjun dalam dunia politik seperti Sarekat Islam yang dipandang sebagai pelopor pergerakan partai Islam yang memiliki andil yang besar dalam penanaman kesadaran politik kebangsaan, namun ada juga yang berkonsentrasi pada bidang pendidikan dan sosial. Partai-partai kebangsaan dan partai politik yang berlandaskan Islam di antaranya, Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), Partai Islam Indonesia (PII). Kemudian muncul Muhammadiyah (1912), Persatuan Islam (Persis, 1923), Persatuan Umat Islam (PUI, 1925), Nahdatul Ulama (NU, 1929), dan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI, 1937).
Dalam mengisi kemerdekaan, umat Islam bersama pemerintah membangun negara dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan. Sejak awal kebangkitan bangsa Indonesia, umat Islam telah berperan untuk ikut mencerdaskan bangsa dengan membangun lembaga sosial, pendidikan, dan sebagainya.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah Islam datang ke Indonesia dengan cara damai dan tidak memaksa sehingga mudah diterima oleh masyarakat Indonesia yang pada waktu itu pemerintahannya masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Datangnya agama Islam dibawa oleh para pedagang dan muballigh. Setelah Islam diterima, mulai ada penetrasi Islam untuk masuk ke struktur birokrasi pemerintahan melalui partai politik dengan basis agama Islam. umat Islam bersama pemerintah membangun negara dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan. Islam telah berperan untuk ikut mencerdaskan bangsa dengan membangun lembaga sosial, pendidikan, dan sebagainya.


Sumber bacaan
HD, Kaelany. 2006. Islam Agama Universal. Jakarta: Midada Rahma Press






No comments:

Post a Comment