Tuesday, 24 September 2013

DASAR-DASAR FILSAFAT



Filsafat merupakan akar dari semua ilmu pengetahuan. Tidak ada pengetahuan yang tumbuh tanpa didahului oleh filsafat ilmunya. Maka, antara filsafat dan pengetahuan keduanya memiliki hubungan. Penjelasan tentang hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan dapat kita temui dalam literatur filsafat ilmu. Filsafat ilmu berkaitan dengan asumsi, fondasi, metode, dan implikasi dari ilmu pengetahuan. Kajian ini juga berkaitan dengan penggunaan dan manfaat ilmu pengetahuan, serta eksplorasi apakah hasil ilmiah sungguh-sungguh menghasilkan kebenaran. Filsafat ilmu juga mempertimbangkan masalah yang berlaku untuk ilmu tertentu. Beberapa filsuf ilmu juga menggunakan hasil kontemporer ilmu pengetahuan untuk memperoleh kesimpulan tentang filsafat. Di sisi lain, filsafat ilmu berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dasar-dasar filsafat perlu diketahui sebelum menekuni sebuah ilmu pengetahuan.


A.    Pengertian Filsafat
Secara etimologis, dapat diartikan bahwa filsafat adalah cinta pada kebijaksanaan. Kata filsafat secara etimologis dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab: falsafah. Kata falsafah sendiri berasal dari bahasa Yunani, philosophia. Philosopia merupakan gabungan dari dua kata, yaitu philos yang berarti ‘suka’, ‘senang’, dan ‘cinta’ dan sophia yang memiliki arti ‘arif’, ‘bijaksana’, dan ‘hikmah’ (=kebenaran yang mendalam)’. Sedangkan secara semantik, filsafat adalah pengetahuan yang mempelajari hakekat segala yang ada dan yang mungkin ada sedalam-dalamnya yang dilakukan secara radikal dan menyeluruh. Berfilsafat adalah berpikir radikal (sampai ke akar-akarnya), menyeluruh, dan mendasar. Jadi,  peran filsafat tidak hanya menjawab pertanyaan yang muncul dalam kehidupan, tetapi justru mempersoalkan jawaban yang diberikan. Dapat dikatakan bahawa dengan belajar filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menangani berbagai pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metode ilmu-ilmu khusus.

B.     Ciri Pikiran Kefilsafatan
Sebagai sebuah sumber dari sebuah ilmu pengetahuan, filsafat memiliki beberapa ciri-ciri antara lain:
1. Bersifat menyeluruh : berpikir secara luas, tidak membatasi diri dan tidak hanya meninjau dari satu sudut pandang saja.
2. Bersifat mendasar : berpikir secara mendalam dari hal-hal yang kecil sampai yang tidak tampak.
3. Bersifat Spekulatif : hasil pemikiran yang didapat kemudian dijadikan  dasar pemikiran selanjutnya untuk mencari atau mendapat  pengetahuan yang baru.
4. Bersifat Universal : berpikir secara umum dalam mencari kebenaran, dari ntuk kebenaran tentang segala sesuatu yang dipermasalahkan.

C.      Cabang dan Aliran Filsafat
Ada berbagai cara untuk membagi filsafat menjadi cabang-cabang yang memiliki obyek
kajian khusus. Kita dapat menemukan pembagian filsafat berdasarkan sistematika permasalahan
(Gazalba, 1979) atau area kajian filsafat yang secara garis besar terdiri dari ontologi,
epistemologi dan axiologi. Filsafat dapat dibedakan berdasarkan obyek
kajian dengan cabang-cabang di antaranya filsafat alam, filsafat matematika, filsafat ilmu, filsafat sejarah, filsafat ketuhanan, filsafat bahasa, filsafat agama dan filsafat politik.
Filsafat secara sistematis terbagi menjadi 3 bagian besar:
1) Ontologi yaitu bagian filsafat yang mengkaji tentang ‘ada’ (being) atau tentang apa yang nyata;
2) Epistemologi yaitu bagian filsafat yang mengkaji hakikat dan ruang lingkup
pengetahuan; dan
3) Axiologi yaitu bidang filsafat yang mengkaji nilai-nilai yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan manusia.

D.    Langkah Belajar Filsafat
Para filsuf mengembangkan cara belajar filsafat sesuai dengan pendekatan yang digunakannya.  Secara umum, filsuf berusaha memperoleh makna istilah-istilah dengan cara melakukan analisis terhadap istilah-istilah itu berdasarkan pengenalan obyeknya dalam kenyataan. Analisis terhadap istilah merupakan langkah penting yang harus dilakukan untuk mendapatkan makna yang tepat dan memadai.  Menganalisis adalah melakukan pemeriksaan konsepsional terhadap istilah-istilah yang digunakan atau pernyataan pernyataan yang dibuat.
Secara ringkas, Kattsoff (2004:34-38) mengemukakan langkah-langkah umum yang
disarankan dalam menganalisis dan sintesis.
1. Memastikan adanya masalah yang diragukan kesempurnaan atau kelengkapannya.
2. Masalah umumnya terpecahkan dengan mengikuti dua langkah, yakni menguji prinsip-prinsip kesahihannya dan menentukan sesuatu yang tak dapat diragukan kebenarannya (untuk menyimpulkan kebenaran yang lain).
3. Meragukan dan menguji secara rasional segala hal yang ada sangkut pautnya dengan kebenaran.
4. Mengenali apa yang dikatakan orang lain mengenai masalah yang bersangkutan dan menguji penyelesaian-penyelesaian mereka.
5. Menyarankan suatu hipotesis yang kiranya memberikan jawaban atas masalah yang diajukan.
6. Menguji konsekuensi-konsekuensi dengan melakukan verifikasi terhadap hasil-hasil penjabaran yang telah dilakukan.
7. Menarik simpulan mengenai masalah yang mengawali penyelidikan.

No comments:

Post a Comment