Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen
adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif.
Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan
karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam
pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek
yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh,
plot, tema,
bahasa dan insight secara lebih
luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam
berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan
singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada tradisi
penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis,
cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam
cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann
dan Anton Chekhov. Berikut ini adalah contoh cerpen yang saya buat
sendiri J
Matahari belum memunculkan batang hidungnya saat aku terbangun pagi ini.
Aku memang sengaja memasang alarm pagi sekali agar belum ada yang bangun. Aku
berniat untuk jogging pagi ini, setelah kemarin Bu Rani menyuruhku untuk
menjaga kebugaran fisik. Kebugaran fisik memang sangat menunjang seseorang
dalam bernyanyi yang memang menjadi hobiku.
Aku benar-benar berlatih keras demi menghadapi kompetisi menyanyi
Sekolah Dasar tingkat propinsi kali ini. Aku ditunjuk oleh sekolah untuk
mewakili Kabupaten Kendal. Pemerintah memang telah menunjuk sekolah kami untuk
mewakili kompetisi tersebut, karena memang sekolah kami sudah berkompeten di
bidang itu dalam lima tahun terakhir. Jadi aku hanya perlu mengikuti seleksi di
tingkat sekolah saja untuk mengikuti kompetisi ini.
Pelajaran pagi ini diawali dengan pelajaran bahasa Inggris.
Pak Amir, guru yang terkenal galak dan temperamen masuk kelas dengan
tergesa-gesa tidak seperti biasanya. Matanya juga terlihat merah padam seperti
habis marah dengan seseorang.
Pak Amir adalah wali kelasku, kelas 4. Sebenarnya beliau orang yang
sangat baik dan bijaksana namun terkadang menurut kami memang emosinya tidak
terkontrol.
“ Baik, anak-anak buka buku bahasa Inggris kalian halaman 113 dan
kerjakan soal latihan yang bagian bawah. Kerjakan sendiri jangan mencontek
teman kalian. Bapak mau pergi keluar dulu”. Beliau hanya masuk untuk mengatakan
kata-kata itu lalu keluar juga dengan tergesa-gesa. Kami pun bingung ada apa
gerangan yang sebenarnya terjadi. Aku yang kebetulan duduk di samping jendela
kelas akhirnya penasaran dan seketika mengintip untuk mengetahui sebenarnya apa
yang terjadi.
Pak Amir terlihat menuju ruang kantor guru. Beliau terlihat berdebat
keras dengan bu Rani. Aku semakin bingung, sebenarnya apa yang terjadi. Aku
bertanya dalam hati apakah ini semua gara-gara aku. Aku selalu keluar kelas
untuk mempersiapkan lomba menyanyi kali ini. Pak Amir juga selalu terlihat
marah padaku saat aku ijin keluar kelas untuk menemui bu Rani untuk berlatih
menyanyi.
Pasti beliau sedang berdebat dengan bu Rani karena aku tidak beliau
ijinkan untuk ikut dalam lomba nyanyi itu, atau beliau sedang bedebat untuk
memberi hukuman apa yang pantas untukku karena aku selalu membolos pelajaran
untuk berlatih, pikirku dalam hati. Aku hanya termenung di jendela kelas
memikirkan apakah yang terjadi sebenarnya.
“ Baik anak-anak waktunya habis, bapak akan menarik jawaban kalian
masing-masing sekarang” Pak Amir menghentikan lamunanku. Ternyata satu jam
telah berlalu dan aku tidak sadar bahwa telah satu jam lamanya aku melamun
sementara teman yang lain telah selesai mengerjakan tugas dari Pak Amir. “Ya
Tuhan, bagaimana ini. Aku belum mengerjakan satu nomer pun. Pasti Pak Amir akan
marah besar padaku. Apa yang harus kulakukan”.
Pak Amir menghampiriku dan menagih pekerjaanku. “ Sari, mana
pekerjaanmu?”. “Ma ma maaf Pak, saya belum mengerjakan. Tadi saya ketiduran” dengan
ketakutan aku menjawabnya. Aku hanya menunduk dan ketakutan menuggu apa yang
akan Pak Amir lakukan padaku. Aku siap menerima konsekuensi apa yang akan Pak
Amir berikan, karena memang aku lah yang bersalah.
Tanpa aku kira, beliau ternyata tidak memarahiku. Beliau menganggap
bahwa aku sakit, dan malah menyuruhku untuk istirahat saja di UKS. Aku pun
menurutinya. Beliau mengantarkanku ke UKS yang berdekatan dengan kantor guru.
Setelah mengantarkanku, beliau langsung kembali ke kelas untuk kembali
mengajar.
Aku terpaksa berbohong kepada Pak Amir dengan mengatakan bahwa aku
sakit. Aku pun senang bisa lolos dari hukuman Pak Amir. Namun aku bingung kenapa tidak seperti
biasanya, biasanya Pak Amir selalu memarahiku tapi kali ini beliau hanya
bertanya padaku. Ah sudahlah yang penting aku lolos dari hukuman guru yang killer itu. Aku pun hanya tiduran di UKS
sekolah yang kebetulan waktu itu hanya aku yang sedang sakit, maksudnya
pura-pura sakit.
“ Baik Pak, akan saya laksanakan perintah Bapak” kata Bu
Rani kepada Kepala Sekolah yang ku dengar dari balik jendela UKS. Aku tidak
menaruh curiga sedikitpun dengan perbincangan mereka. Namun setelah aku
pikir-pikir mungkin saja perbincangan itu berhubungan dengan keputusan untuk
mengijinkanku untuk mengikuti lomba bernyanyi besok, dan akhirnya aku mulai
menguping pembicaraan mereka. Saat aku akan menguping ternyata pembicaraan
mereka sudah selesai. Kulihat bu Rani keluar ruang kantor dan duduk di depan
ruang kantor. Beliau terlihat gelisah, seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Hari ini aku pulang dengan rasa penasaran yang amat dalam
hatiku. Aku semakin bingung sebenarnya ada apa semua ini. Tidak biasanya Pak
Amir tak memarahiku, dan tidak biasanya bu Rani terlihat galau. Kondisi yang
berbanding terbalik dengan hari-hari biasanya. Malam ini aku benar-benar tak
bisa tidur. Ku pejamkan mata, namun jantungku berdebar memikirkan sebenarnya
apa yang terjadi tadi siang. Apa benar Pak Amir menyuruh Bu Rani membatalkan
aku untuk ikut dalam lomba itu.
***
Aku benar-benar tak ingin masuk sekolah, aku malu dengan
semua temanku. Aku gagal ikut lomba itu hanya karena satu hal kecil, itu pasti
cuma alibi agar aku tidak menaruh curiga. Bu Rani pun tega mengatakan itu
padaku sore itu 3 hari yang lalu. Padahal lomba itu tinggal 1 minggu lagi,
lantas kalau aku tidak maju ke perlombaan itu siapa yang akan menggantikanku.
Rasanya ingin mengurung diri di kamar saja, entah sampai kapan.
“ Nak, keluarlah ada Pak Amir datang” kata ibuku sambil
mengetuk pintu kamar. “ Aku tidak mau keluar bu, aku malu. Lagian, untuk apa
Pak Amir kemari”. Aku benar-benar tak keluar dari kamar, bahkan membuka pintu
pun tidak. Kulihat dari jendela Pak Amir berjalan pulang, dia berjalan seperti
tanpa daya. Setelah Pak Amir pulang, aku keluar dari kamar. Ibu sepertinya
marah padaku, karena memang sejak 2 hari yang lau aku tidak keluar kamar. Namun
seperti biasanya ia tidak pernah menunjukkan kemarahannya padaku. “ Ini nak,
ada surat dari Pak Amir untukmu” kata ibuku sambil memberikan sepucuk surat.
Ternyata selama ini aku salah, Pak Amir lah yang sebenarnya
membelaku. Pak Amir lah orang yang mengusulkan agar aku yang ikut lomba itu.
Apa yang telah ku lakukan, aku telah berbohong pada beliau. Bahkan aku tidak
keluar saat Pak Amir ke rumahku. Ya Tuhan apa yang telah ku lakukan,
pengorbanan Pak Amir selama ini aku balas dengan sia-sia. Pak Amir mengatakan
bahwa sebenarnya Kepala Sekolah dan Bu Rani telah sepakat untuk menunjuk Gita,
murid baru anak kelas 5.
Ternyata Gita adalah keponakan dari kepala sekolah, sehingga mungkin dia
lebih diprioritaskan daripada aku. Pak Amir juga mengatakan, selama ini beliau
telah bekerja keras untuk memperjuangkan agar tetap aku yang mewakili sekolah
dalam perlombaan ini. Tapi Kepala Sekolah tetap bersikukuh agar keponakannya
lah yang maju dalam perlombaan kali ini. Sebagai alibi, Bu Rani mengatakan
padaku bahwa umurku masih terlalu muda sehingga yang berhak maju adalah kakak
kelas 5 yang umurnya lebih tua.
***
“ Nak ada telepon dari Pak Amir, buruan kesini” kata ibuku
dari ruang keluarga. Aku langsung menarik gagang telepon dari genggaman ibuku.
“ Bagaimana Sari, sudah siap kan? Sepuluh menit lagi bapak akan kesitu
menjemputmu, kita langsung berangkat ke Semarang”
“ Iya Pak, saya sudah siap dari tadi kok”.
Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Semarang. Aku
benar-benar harus berterimakasih kepada Pak Amir. Beliau telah memperjuangkan
aku mati-matian untuk ikut dalam perlombaan ini. Tepat satu hari setelah
kedatangan Pak Amir tempo lalu ke rumahku, Gita keponakan kepala sekolah
mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia harus dirawat di rumah sakit.
Akhirnya pihak sekolah waktu itu datang ke rumahku, mereka membujukku untuk
kembali bersekolah dan menjelaskan semua yang terjadi. Mereka juga meminta maaf
padaku. Akhirnya mereka pun menunjukku kembali untuk mengikuti lomba hari ini.
Terima kasih banyak Pak Amir.
No comments:
Post a Comment