Tuesday, 23 October 2012

Menulis Cerpen


Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov. Berikut ini adalah contoh cerpen yang saya buat sendiri J


Matahari belum memunculkan batang hidungnya saat aku terbangun pagi ini. Aku memang sengaja memasang alarm pagi sekali agar belum ada yang bangun. Aku berniat untuk jogging pagi ini, setelah kemarin Bu Rani menyuruhku untuk menjaga kebugaran fisik. Kebugaran fisik memang sangat menunjang seseorang dalam bernyanyi yang memang menjadi hobiku.
Aku benar-benar berlatih keras demi menghadapi kompetisi menyanyi Sekolah Dasar tingkat propinsi kali ini. Aku ditunjuk oleh sekolah untuk mewakili Kabupaten Kendal. Pemerintah memang telah menunjuk sekolah kami untuk mewakili kompetisi tersebut, karena memang sekolah kami sudah berkompeten di bidang itu dalam lima tahun terakhir. Jadi aku hanya perlu mengikuti seleksi di tingkat sekolah saja untuk mengikuti kompetisi ini.
          Pelajaran pagi ini diawali dengan pelajaran bahasa Inggris. Pak Amir, guru yang terkenal galak dan temperamen masuk kelas dengan tergesa-gesa tidak seperti biasanya. Matanya juga terlihat merah padam seperti habis marah dengan seseorang.
Pak Amir adalah wali kelasku, kelas 4. Sebenarnya beliau orang yang sangat baik dan bijaksana namun terkadang menurut kami memang emosinya tidak terkontrol. 
“ Baik, anak-anak buka buku bahasa Inggris kalian halaman 113 dan kerjakan soal latihan yang bagian bawah. Kerjakan sendiri jangan mencontek teman kalian. Bapak mau pergi keluar dulu”. Beliau hanya masuk untuk mengatakan kata-kata itu lalu keluar juga dengan tergesa-gesa. Kami pun bingung ada apa gerangan yang sebenarnya terjadi. Aku yang kebetulan duduk di samping jendela kelas akhirnya penasaran dan seketika mengintip untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi.
Pak Amir terlihat menuju ruang kantor guru. Beliau terlihat berdebat keras dengan bu Rani. Aku semakin bingung, sebenarnya apa yang terjadi. Aku bertanya dalam hati apakah ini semua gara-gara aku. Aku selalu keluar kelas untuk mempersiapkan lomba menyanyi kali ini. Pak Amir juga selalu terlihat marah padaku saat aku ijin keluar kelas untuk menemui bu Rani untuk berlatih menyanyi.
Pasti beliau sedang berdebat dengan bu Rani karena aku tidak beliau ijinkan untuk ikut dalam lomba nyanyi itu, atau beliau sedang bedebat untuk memberi hukuman apa yang pantas untukku karena aku selalu membolos pelajaran untuk berlatih, pikirku dalam hati. Aku hanya termenung di jendela kelas memikirkan apakah yang terjadi sebenarnya.
“ Baik anak-anak waktunya habis, bapak akan menarik jawaban kalian masing-masing sekarang” Pak Amir menghentikan lamunanku. Ternyata satu jam telah berlalu dan aku tidak sadar bahwa telah satu jam lamanya aku melamun sementara teman yang lain telah selesai mengerjakan tugas dari Pak Amir. “Ya Tuhan, bagaimana ini. Aku belum mengerjakan satu nomer pun. Pasti Pak Amir akan marah besar padaku. Apa yang harus kulakukan”.
Pak Amir menghampiriku dan menagih pekerjaanku. “ Sari, mana pekerjaanmu?”. “Ma ma maaf Pak, saya belum mengerjakan. Tadi saya ketiduran” dengan ketakutan aku menjawabnya. Aku hanya menunduk dan ketakutan menuggu apa yang akan Pak Amir lakukan padaku. Aku siap menerima konsekuensi apa yang akan Pak Amir berikan, karena memang aku lah yang bersalah.
Tanpa aku kira, beliau ternyata tidak memarahiku. Beliau menganggap bahwa aku sakit, dan malah menyuruhku untuk istirahat saja di UKS. Aku pun menurutinya. Beliau mengantarkanku ke UKS yang berdekatan dengan kantor guru. Setelah mengantarkanku, beliau langsung kembali ke kelas untuk kembali mengajar.
Aku terpaksa berbohong kepada Pak Amir dengan mengatakan bahwa aku sakit. Aku pun senang bisa lolos dari hukuman Pak Amir.  Namun aku bingung kenapa tidak seperti biasanya, biasanya Pak Amir selalu memarahiku tapi kali ini beliau hanya bertanya padaku. Ah sudahlah yang penting aku lolos dari hukuman guru yang killer itu. Aku pun hanya tiduran di UKS sekolah yang kebetulan waktu itu hanya aku yang sedang sakit, maksudnya pura-pura sakit.
          “ Baik Pak, akan saya laksanakan perintah Bapak” kata Bu Rani kepada Kepala Sekolah yang ku dengar dari balik jendela UKS. Aku tidak menaruh curiga sedikitpun dengan perbincangan mereka. Namun setelah aku pikir-pikir mungkin saja perbincangan itu berhubungan dengan keputusan untuk mengijinkanku untuk mengikuti lomba bernyanyi besok, dan akhirnya aku mulai menguping pembicaraan mereka. Saat aku akan menguping ternyata pembicaraan mereka sudah selesai. Kulihat bu Rani keluar ruang kantor dan duduk di depan ruang kantor. Beliau terlihat gelisah, seperti ada sesuatu yang mengganjal.
          Hari ini aku pulang dengan rasa penasaran yang amat dalam hatiku. Aku semakin bingung sebenarnya ada apa semua ini. Tidak biasanya Pak Amir tak memarahiku, dan tidak biasanya bu Rani terlihat galau. Kondisi yang berbanding terbalik dengan hari-hari biasanya. Malam ini aku benar-benar tak bisa tidur. Ku pejamkan mata, namun jantungku berdebar memikirkan sebenarnya apa yang terjadi tadi siang. Apa benar Pak Amir menyuruh Bu Rani membatalkan aku untuk ikut dalam lomba itu.
***
          Aku benar-benar tak ingin masuk sekolah, aku malu dengan semua temanku. Aku gagal ikut lomba itu hanya karena satu hal kecil, itu pasti cuma alibi agar aku tidak menaruh curiga. Bu Rani pun tega mengatakan itu padaku sore itu 3 hari yang lalu. Padahal lomba itu tinggal 1 minggu lagi, lantas kalau aku tidak maju ke perlombaan itu siapa yang akan menggantikanku. Rasanya ingin mengurung diri di kamar saja, entah sampai kapan.
          “ Nak, keluarlah ada Pak Amir datang” kata ibuku sambil mengetuk pintu kamar. “ Aku tidak mau keluar bu, aku malu. Lagian, untuk apa Pak Amir kemari”. Aku benar-benar tak keluar dari kamar, bahkan membuka pintu pun tidak. Kulihat dari jendela Pak Amir berjalan pulang, dia berjalan seperti tanpa daya. Setelah Pak Amir pulang, aku keluar dari kamar. Ibu sepertinya marah padaku, karena memang sejak 2 hari yang lau aku tidak keluar kamar. Namun seperti biasanya ia tidak pernah menunjukkan kemarahannya padaku. “ Ini nak, ada surat dari Pak Amir untukmu” kata ibuku sambil memberikan sepucuk surat.
          Ternyata selama ini aku salah, Pak Amir lah yang sebenarnya membelaku. Pak Amir lah orang yang mengusulkan agar aku yang ikut lomba itu. Apa yang telah ku lakukan, aku telah berbohong pada beliau. Bahkan aku tidak keluar saat Pak Amir ke rumahku. Ya Tuhan apa yang telah ku lakukan, pengorbanan Pak Amir selama ini aku balas dengan sia-sia. Pak Amir mengatakan bahwa sebenarnya Kepala Sekolah dan Bu Rani telah sepakat untuk menunjuk Gita, murid baru anak kelas 5.
Ternyata Gita adalah keponakan dari kepala sekolah, sehingga mungkin dia lebih diprioritaskan daripada aku. Pak Amir juga mengatakan, selama ini beliau telah bekerja keras untuk memperjuangkan agar tetap aku yang mewakili sekolah dalam perlombaan ini. Tapi Kepala Sekolah tetap bersikukuh agar keponakannya lah yang maju dalam perlombaan kali ini. Sebagai alibi, Bu Rani mengatakan padaku bahwa umurku masih terlalu muda sehingga yang berhak maju adalah kakak kelas 5 yang umurnya lebih tua.
***
          “ Nak ada telepon dari Pak Amir, buruan kesini” kata ibuku dari ruang keluarga. Aku langsung menarik gagang telepon dari genggaman ibuku.
“ Bagaimana Sari, sudah siap kan? Sepuluh menit lagi bapak akan kesitu menjemputmu, kita langsung berangkat ke Semarang”
“ Iya Pak, saya sudah siap dari tadi kok”.
          Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Semarang. Aku benar-benar harus berterimakasih kepada Pak Amir. Beliau telah memperjuangkan aku mati-matian untuk ikut dalam perlombaan ini. Tepat satu hari setelah kedatangan Pak Amir tempo lalu ke rumahku, Gita keponakan kepala sekolah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia harus dirawat di rumah sakit. Akhirnya pihak sekolah waktu itu datang ke rumahku, mereka membujukku untuk kembali bersekolah dan menjelaskan semua yang terjadi. Mereka juga meminta maaf padaku. Akhirnya mereka pun menunjukku kembali untuk mengikuti lomba hari ini. Terima kasih banyak Pak Amir.
         

No comments:

Post a Comment